Universal Service Obligation (USO) merupakan sebuah perangkat telekumunikasi pedesaan dari Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. perangkat ini di programkan oleh pemerintah untuk mengatasi kesenjangan komunikasi desa-desa di seluruh Indonesia.
Perangkat telepon pedesaan Universal Service Obligation (USO) ini di kelola oleh Kisel (Koperasi Karyawan Telkomsel) dan di tenderkan pada perusahaan lain untuk tiap-tiap provinsi. dalam entri ini kita akan membahas Perangkat telepon pedesaan Universal Service Obligation (USO) non parabola.dalam penerapan teknologi Universal Service Obligation (USO) ini mengunakan teknologi yang di adaptasikan sesuai dengan kondisi desa-desa yang akan di pasang perangkat ini, dengan terlebih dahulu mengirim petugas survei awal.
adapun frase-frase solusi teknologi yang di gunakan antara lain sebagai berikut :
- ST1A : Mendapat telepon + kartu SIM
- ST2A : Mendapat telepon + kartu SIM + Repeater
- ST2B : Mendapat Telepon + kartu SIM + Repeater + panel sollar sel
ST1A : Mendapat telepon + kartu SIM
Perangkat telepon pedesaan Universal Service Obligation (USO) dengan solusi teknologi seperti ini di pasang pada desa-desa yang telah mendapatkan sinyal Operator Seluler Telkomsel dan telah mendapat aliran listrik dari PLN (Perusahaan Listik Negara).
ST2A : Mendapat telepon + kartu SIM + Repeater
Perangkat telepon pedesaan Universal Service Obligation (USO) dengan solusi teknologi seperti ini di pasang pada desa-desa yang telah mendapatkan sinyal Operator Seluler Telkomsel namun masih lemah dan telah mendapat aliran listrik dari PLN (Perusahaan Listik Negara).
ST2B : Mendapat Telepon + kartu SIM + Repeater + panel sollar sel
Perangkat telepon pedesaan Universal Service Obligation (USO) dengan solusi teknologi seperti ini di pasang pada desa-desa yang belum mendapatkan sinyal Operator Seluler Telkomsel dan belum mendapat aliran listrik dari PLN (Perusahaan Listik Negara).
Pada tiap-tiap desa yang mendapat perangkat ini akan di lengkapi dengan KBU (Kamar Bicara Umum) dan mendapatkan bonus sebesar Rp. 100.000,- pada tiap awal bulan (bonus tidak di akumulasi) dan tarif sangat murah sms hanya Rp. 50,- panggilan lokal dan internasionalnya juga murah.
Namun hasil pemantauan lapangan, saya melihat kondisi perangkat ini memprihatinkan hal ini karena kurangnya perawat dari mitra Telkomsel itu sendiri. dan banyaknya kesalahan dalam penerapan teknologi oleh bagian pemasangan sehingga banyak perangkat yang tidak dapat di gunakan dan banyak pula perangkat yang terbengkalai karena tidak di gunakan. menurut desas-desus yang berkembang di klaim bahwa biaya perawatan perangkat ini sangat kecil dan kondisi lapangan yang sangat variatif. memang biaya operasional yang kecil sangat saya rasakan juga sebagai petugas lapangan pemeliharaan perangkat ini.

